Prosa, CintaNovember 8, 2005 12:25 pm
Dinihari. Ketika jarum pendek dua garis melewati angka satu.
Masih di sekitar cinta. Kalimat-kalimat yang merayap, memanggil cinta dengan lambaian cemburu, berjubah kerinduan yang ingin disampaikan tiap detik. Kata-kata itu pudar saat cemburu berkunjung di gelap ruang. Seketika kalimat runtuh bersamanya. Mungkinkah ada kalimat tanpa kata? Mungkin saja, tapi tidak merayap.
Kata-kata itu menggenang menjadi frase-frase. Berusaha menjadi kalimat-kalimat lagi.
Hening
Dinding mematung, lantai membisu, jendela dan pintu terpaku di kehampaan. Ada yang hilang.
Lalu mawar itu kembali berbunga. Bertanya pada krisan di dekatnya, “ada yang kau rasa hilang, teman?”
“ada” jawab krisan singkat
“katakan padaku, apa yang hilang dan berapa banyak?”
singgasana?”
“bukan”
“jubah kebesaran?”
“juga bukan”
“mahkota?”
Krisan diam.
“apa maksudnya?” pikir mawar, lalu kembali bertanya kepada krisan, “jelaskan kepadaku teman, dimana ketidakmengertianku”
“hai perdu, sebentar lagi kau akan tahu. Tapi harusnya kau sudah tahu dengan melihat kita, kau dari siapa dan aku dari siapa, bagaimana kita disini” jelas krisan.
Sesosok bayangan dari sesuatu tiba-tiba muncul dari bayangan, memangkas habis krisan dan mencampakkannya ke tanah. Krisan itu mati.
“aku menemukanmu disini” sejenak dia diam. “dibalik krisan yang seharusnya tak disini mengorbankanmu” lanjutnya.
Aku masih melihat, aku sayang kamu. Aku masih jelas membaca, aku cinta kamu, diantara aku takut kehilanganmu, aku rindu kamu, aku membutuhkanmu, jangan pergi dariku, jangan berhenti mencintaiku.
Setelah itu…
“hey! Aku temukan dia disini. Kesetiaan!”
“cepat kau pakai lagi mahkotamu!”
:to my friends: