Membubungkan Cinta Sampai ke Langit
“Kan kuingat di dalam hatiku/ betapa indah semalam di Cianjur/ Janji kasih yang tlah kau ucapkan/ penuh kenangan yang takkan terlupakan….’‘
Banyak cinta yang terbuang sia-sia, banyak cinta yang berutang pada hati. Sampai kini cinta itu memanggil-manggil, berkelakar dari kejauhan mencandai hati yang indah terbuai hati, walau luka. Getir. Manis. Pahit. Pahatan cinta di rerumputan. h a t i
H A T I
Ah, ini seperti tulisan lama. Ada hati, ada cinta, cinta membakar, cinta terbakar, tak ada yang tersisa, lalu luka. Klise.
Kata-kata itu mengangkasa membelah hening di sekitar malam. Sembilu menusuk-nusuk dan tertahan diantara kulit. Hati tertusuk mendengar cinta beriring memaki lagi selingkuh itu. Kemana hati saat itu? Menjerat di daratan hati lain? Sakit dan pilu semakin carut marut menghentak, menampar, meludah, mencaci-maki tak henti-hentinya. Pilu, hanya pilu.
Lagi-lagi sakit. Seperti roman lama tentang cinta. Menjiplak cinta yang tak sampai. Saat pertemuan di sebuah stasiun kereta, mencari sebuah benda sentimentil yang hilang, menjadi kenangan. Kini terbayang, sebuah destiny. Yang tak sampai. Mengabadikan dalam sebuah karya, yang masih tersimpan.
Begitulah. Penggalan ini tentang kisah lama. Tentang cinta Rock ‘n Roll high school.
Tapi ini bukan tentang pertemuan di stasiun kereta. Ini tentang janjian di toilet sekolah, janjian makan di kantin, “aku jemput pulang sekolah ya”, mencuri-curi ciuman di sudut lapangan basket, tentang secarik kertas di kolong meja, ada tulisan “kakak cakep deh” dari cewek yang lain, lalu “jangan temui aku satu minggu, jangan telpon aku 1 minggu, dan teman-teman memajang fotokopian tulisan itu di papan tulis, ada yang sengaja “membajak”, gila, perbuatan siapa ini? ternyata canda itu jadi bahan tawa kala pertemuan lain, senyum, tentang kegelisahan dan kekesalan siapa yang membenturkan kepalamu ke kursi, hahaha, hanya anak usil yang mengaku pas abis wisuda s1 unmer.
(3ipa2-smanta)





