el gibrany

RangkaiDecember 9, 2006 4:35 pm

Daripada gak kesampaian nulis di BOLA, akhirnya disini aja diposting yahh….

Menaturalisasi tujuh pemain asal Brazil? Wow, langkah yang berani sekaligus ugal-ugalan.
Kesebelasan Indonesia memang miskin prestasi. Tak peduli sudah seberapa banyak uang yang mengalir. Mulai dari klub-klub yang jor-joran membeli pemain asing berharga tinggi, sampai program-program pengiriman pemain berbakat ke luar negeri. Toh penampilan timnas masih jalan di tempat (kalau tidak ingin dibilang mundur)
Bicara prestasi rasanya kita masih harus terus bersabar. Entah samapi kapan. Prestasi menjadi barang yang mahal. Konon harganya sampai putaran liga Indonesia tidak berganti format selama tujuh turunan berturut-turut, dan tidak mesti memakai nama “super”
Melihat harga yang mahal itu, segeralah para (calon) “pahlawan” merasa “terpanggil” untuk segera merebut label hero yang berjasa besar atas prestasi yahud timnas. Maka tujuh serdadu asing dari negeri sono pun didatangkan.
Naif, dalam organisasi yang katanya paling mewakili olahraga paling memasyarakat ini, masih ada segelintir dan bergelintir orang-orang yang harusnya sudah digelontor, menstimulasi lewat keputusan gegabah tersebut.
Menurut penulis sah-sah saja asalkan lewat proses tender. Jangan asal comot aja. Tendernya bisa ditawarkan kepada negara-negara peringkat sepuluh besar FIFA. Pasti banyak peminatnya dan dijamin akan semakin seru. Kalo masih kurang sreg bisa dilakukan seperti di Tv-tv. Masyarakat memilih pemainnya lewat sms. Ah, apa bisa seenaknya seperti itu? Ah, namanya juga dagelan

SALAM OLAHRAGA! jeijeijeijeiejie

Rangkai, Sosial-Budaya 4:31 pm

(Kafe Masuk Desa di Bali: Ga sempat dikirim)

Menjamurnya kafe di Bali bisa dipahami sebagai implikasi bahwa bali merupakan pasar potensial bagi bisnis hiburan. Di Denpasar begitu mudah ditemui kafe-kafe yang rata-rata memberikan menu utama yang sama. Duduk sambil minum ditemani gadis seksi. Kafe remang, nama ini kian akrab sampai ke desa, tidak usah jauh-jauh ke kota, kini di desa pun ada.
Masuknya kafe ke desa merupakan indikator bahwa bisnis ini memang menggiurkan sekaligus ancaman serius. Bagaimanapun, desa yang dianggap kental kehidupan agamanya, memegang teguh luhur budayanya dan berpedoman pada adat istiadatnya telah tercerabuti penyakit-penyakit yang merusak. Dikhawatirkan keberadaan desa bukan lagi sebagai kiblat norma-norma, keluhuran budaya serta penyeimbang kota. Desa akan terancam semakin jauh dari idealismenya.

Kafe remang yang menjanjikan hiburan-hiburan serta kenikmatan-kenikmatan, konsumennya sebagian besar didominasi oleh generasi muda kisaran 16 sampai 35 tahun. Memprihatinkan, manakala usia tersebut merupakan usia produktif manusia. Lebih lanjut, masuknya kafe ke desa harus dipahami tidak hanya sebagai bisnis yang ugal-ugalan tetapi lebih dari itu yakni pemusnahan generasi muda serta desakralisasi desa.
Kepala desa, sebagai pimpinan tertinggi di desa seharusnya menegaskan bahwa hiburan yang seperti apa yang sebaiknya ditempatkan di desa. Kepala desa dituntut mampu memperjelas batasan-batasan mana yang boleh dan mana yang tidak, tentunya sesuai warisan budaya, adat istiadat dan norma-norma yang baik. Tindakan semacam ini penting dilakukan demi menjaga keaslian budaya, adat istiadat dan norma-norma. Dengan jalan membuat peraturan-peraturan serta tindakan-tindakan tegas melalui aparat desa, memberikan sanksi-sanksi dan sebaginya.
Tindakan tersebut akan semakin efektif dengan dukungan dari pihak-pihak terkait. Tidak saja dari seorang kepala desa dan perangkatnya tetapi juga dari warga desa, generasi muda, organisai kepemudaan dan yang lain yang ingin peduli terhadap kelanggengan budaya luhur sendiri, mempunyai hak yang sama untuk sama-sama menjaga desanya, budayanya, termasuk orang-orang di dalamnya.

( ..)

Prosa, Serba-serbi, Cinta 4:26 pm

Hahahaha…ternyata aku masih menyimpan arsip yang dah lama tentang seseorang sekitar tahun 2002-2003

Ini dia suratnya…

Hai indah…
Dunia ini bener-bener penuh kejutan ya. Lucu, aneh, dan misteri. Keindahan, keburukan, kepedihan, semuanya ngumpul jadi satu. Trus ada yang bilang dunia ini panggung sandiwara. Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura…(loch? Kok malah nyanyi?)
Ada benernya juga, mungkin. Seperti peranku sekarang ini. Peran yang dimainkan oleh berbagai kebetulan yang luar biasa dan keberuntungan yang tak disangka-sangka.
Ya, tentang cerita kita. Cerita tentang seorang mahasiswa yang menyimpan cinta rahasia saat kuliah kepada mahasiswi adik angkatannya. Sekilas kalo Cuma segitu aja sich biasa aja, nggak ada yang menarik, nggak ada sesuatu yang istimewa. Menariknya dimana??
Ok, kita lanjutin…
Waktu itu si mahasiswa lagi kosong alias nggak punya pacar. Maklum mahasiswa yang satu ini tergolong punya sifat yang ekstrim (aktivis bukan, kutu buku bukan) bingung mo digolongin kemana..ah tapi sekarang aku lagi nggak bernafsu untuk mikirin itu. Waktuku sekarang penuh dengan keajaiban tentang bertemunya aku dengan kamu yang serba membingungkan.
Kebanyakan dari kita paling membutuhkan cinta saat kita sedang dalam keadaan paling tidak pantas dicintai. Dalam keadaan seperti itulah, waktu itu…(tepatnya aku lupa, mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu) begitulah, pertama kali aku liat kamu. Di kelas, di kampus. Masih di waktu itu juga, aku yakin aku suka sama kamu tapi aku ragu bilang ke kamu. Setelah aku pikir lebih baik aku berani bilang cinta *ups tapi gejolak politik dan resesi ekonomi pada saat itu nggak ngedukung aku untuk bisa ketemu lagi dengan kamu. Akhirnya cinta pun terpendam dan jadi rahasia…
Cinta mungkin nggak akan berlangsung lama, tapi cinta nggak pernah merupakan akhir. Selalu ada kelanjutan atau harapan bagi yang merasakan. Dan harapan itu sudah bukan rahasia…
Indah, saat aku berhasi “menemukan” kamu, aku nggak perlu lagi menyewa seorang detektif swasta untuk mencari cinta lamaku. Atau pasang iklan yang bunyinya “Telah hilang cintaku saat kuliah. Bagi yang menemukan harap hubungi Aanx di 08563700929. Penemu akan diberi imbalan setimpal dari Tuhan.”
Dua-duanya gak jadi. Well, meminjam salah satu judul lagunya Sheila on 7 –JAP- Jadikanlah Aku Pacarmu…

Dengan segenap hati
(Aanx)

Hahahaha…gombal

Udah diapus neeh...