el gibrany




SEKEDAR CERITA
a women like you

Sekitar Kita, Serba-serbiDecember 28, 2007 2:25 pm


(picture| http://www.murnis.com/)

The wayang klitik figures are painted, flat woodcarvings (a maximum of 5 to 15 mm thick—barely half an inch) with movable arms. The head is solidly attached to the body. With these, it is possible to do puppet plays either by day or by night. This type of wayang is relatively rare
(wikimedia)

Sekitar Kita, Serba-serbi 2:01 pm


Sega Jamblang (Nasi Jamblang dalam Bahasa Indonesia) adalah makanan khas masyarakat kota Cirebon, Jawa Barat. Nama Jamblang berasal dari nama daerah di sebelah barat kota Cirebon tempat asal pedagang makanan tersebut. Ciri khas makanan ini adalah penggunaan daun Jati sebagai bungkus nasi. Penyajian makanannya pun bersifat prasmanan. Menu yang tersedia antara lain sambal goreng (yang agak manis), tahu sayur, paru-paru (pusu), semur hati atau daging, perkedel, sate kentang, telur dadar/telur goreng, telur masak sambal goreng, semur ikan, ikan asin, tahu dan tempe. Sega Jamblang adalah makanan khas Cirebon yang pada awalnya diperuntukan bagi para pekerja paksa pada jaman Belanda yang sedang membangun jalan raya Daendels dari Anyer ke Panarukan yang melewati wilayah Kabupaten Cirebon, tepatnya di Desa Kasugengan. Sega Jamblang saat itu dibungkus dengan daun jati, mengingat bila dibungkus dengan daun pisang kurang tahan lama sedangkan jika dengan daun jati bisa tahan lama dan tetap terasa pulen. Hal ini karena daun jati memiliki pori-pori yang membantu nasi tetap terjaga kualitasnya meskipun disimpan dalam waktu yang lama. Keberadaan Sega Jamblang sebagai makanan khas Cirebon, tentunya tidak bisa dilepaskan dari sosok salah satu pedagangnya yang cukup tersohor, yaitu MANG DUL. Nasi Jamblang Mang Dul cukup dikenal oleh masyarakat Cirebon, bukan hanya bagi masyarakat kebanyakan, tetapi juga menyentuh kalangan pejabat. Hampir semua Kepala Daerah, baik itu walikota atu bupati Cirebon, pernah singgah di warung Sega Jamblang Mang Dul. Bahkan beberapa selebritis ibukota, jika singgah di Kota Cirebon, selalu menyempatkan mampir ke warung nasi ini. Sentra makanan Sega jamblang di Kota Cirebon saat ini terletak di wlaiayah Gunung Sari, sekitar Grage Mall. Warung ini tidak pernah tutup alias buka 24 jam. Walaupun menunya sangat beraneka ragam, namun harga makanan ini relatif sangat murah. Karena pada awalnya makanan tersebut diperuntukan bagi untuk para pekerja buruh kasar di Pelabuhan dan kuli angkut di jalan Pekalipan.

(wikimedia)

Sekitar KitaDecember 24, 2007 4:42 pm

Gedung Kantor DJB Cabang Cirebon
http://www.bi.go.id/

Kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon dibuka pada 31 Juli 1866 dan baru beroperasi tanggal 6 Agustus 1866 dengan nama Agentschap van De Javasche Bank te Cheribon. Pembukaan kantor cabang ini berdasarkan surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 63 tanggal 31 Juli 1866. Merupakan kantor cabang kelima. Ke-empat kantor cabang yang telah dibuka terlebih dahulu yaitu: Semarang, Surabaya, Padang, dan Makasar P.J. Janssens, Notaris di Cirebon ditunjuk sebagai pimpinan Kantor Cabang Cirebon pertama. Setiap tahun, P.J. Janssens memperoleh imbalan 25 % dari laba bersih minimal f 1.200. Dan sebagai komisaris dan wakil komisaris kantor cabang tersebut diangkat J.W. Peter Pemipin Cabang Factor der Nederlansche Handel Maatschappij (kini menjadi BEII sebelum bergabung dengan Bank Mandiri) dan P. van Waasdjik. Peletakan batu pertama pembangunan gedung Kantor Cabang Cirebon yang terletak di Kampong Tjangkol No.5, dilakukan pada tanggal 21 September 1919 oleh Jan Marianus Gerritzen (anak Direktur M.J. Gerritzen). Perencanaan arsitektur gedung kantor tersebut dilakukan oleh Biro Arsitek F.D. Cuypers & Hulswit. Gedung ini selesai dibangun dan digunakan pada tanggal 22 Maret 1921. Dari catatan sejarah gedung ini dari awal hingga sekarang yang menjadi gedung Bank Indonesia tetap pada lokasi tersebut dan merupakan satu-satunya gedung Kantor Bank Indonesia yang hanya mempunyai satu kubah, sehingga tampak lebih ramping.

Sekitar Kita 4:12 pm

http://www.sinarharapan.co.id/

CIREBON – Berburu oleh-oleh khas Cirebon ternyata bisa jadi petualangan tersendiri. Di kota perbatasan antara provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah itu terdapat sentra-sentra yang menyediakan aneka buah tangan bagi para pendatang. Itu sebabnya dibutuhkan kejelian dan ketekunan untuk memilihnya.

Cirebon amat terkenal dengan beragam olahan khas pesisir, terutama berbahan dasar udang. Ini ditunjukkan dengan betapa mudahnya kita mencari aneka buah tangan, seperti terasi, kerupuk, kecap sampai abon yang terbuat dari udang maupun ikan asin. Terasi udang asal Cirebon harumnya sudah sampai ke mana-mana. Begitu pun dengan abon dari rebon (udang kecil). Alhasil terasa belum pas bila pulang tak membawa panganan itu.
Udang memang jadi andalan. Satwa laut ini telah menjadi kebanggaan kota di pesisir pantai utara Jawa itu. Warganya pun yakin udang juga menyumbang kata untuk nama kota mereka. Saking bangganya, arsitektur bangunan Balai Kota dihiasi dengan patung udang. Patung ini terdapat di bagian puncak bangunan.
”Padahal, oleh-oleh khas Cirebon tak cuma udang saja. Di toko ini, kami membaginya menjadi dua, makanan dan non-makanan,” sebut Sonny, 45, pemilik Toko Sumber Jaya, kios yang khusus menjual oleh-oleh Cirebon di Jl. Siliwangi.
Di bagian makanan, oleh-oleh kembali diklasifikasi: mentah dan matang. Kata Sonny, tak semua toko buah tangan menyediakan kedua jenis panganan itu. Ada yang mengkhususkan diri menjual mentah saja, ada pula cuma sedia matang. ”Bedanya, kami sediakan dua-duanya.” Ambil contoh, emping dan kerupuk.
Untuk olahan bahari, makanan khas Cirebon sebetulnya tak terpaku pada olahan udang. Buktinya, kita bisa dengan mudah memilih ikan asin jambal roti, ikan bilis kering, ikan kakap kering, ikan bulu ayam, star fish dan lainnya. ”Semuanya memang dikeringkan supaya tahan lama dan bisa dibawa kemana-mana,” ujar Sonny dengan ramah.
Bila dibiarkan dalam bentuk basah, hasil laut itu sudah pasti cepat membusuk. Tentu saja, ini tak bisa memenuhi syarat buah tangan yang mudah dibawa dan awet. ”Usaha ini dimulai secara sederhana, kita coba kreatif. Daripada dijual basah tapi nggak tahan lama dan cuma dibuang, kenapa nggak dibuat bentuk kering,” papar perempuan perokok berat itu.
Ia mengaku usaha ini dimulai oleh ibunya, Yoeng Mie Yin (73) pada 1979. Saat itu, tempat mereka berjualan belum sebesar sekarang, cuma sebuah toko berukuran 5×7 meter. Waktu itu toko ini ada di Pasar Pagi Cirebon, tempat ini memang dikenal sebagai pusat oleh-oleh.
Pada 1988, toko Sumber Jaya pindah. Mereka menempati toko baru di Jl. Siliwangi. Ini jalan utama yang selalu ramai. Sebab jalur ini yang menghubungkan Balai Kota dan Alun-alun Kejaksan dengan daerah lain. Perpindahan ini makin pas sebab di sepanjang jalan ini hotel-hotel pun tumbuh subur. Kelancaran usaha mereka terbukti dengan tiga cabang yang dimiliki. ”Tapi yang dua itu beda manajemen. Yang ngurus adik saya,” jelas Sonny tersenyum.

Bervariasi
Soal harga, lanjut Sonny, bervariasi. Tiap produk dibanderol sesuai dengan mutu dan kandungan bahan baku. Makin gurih dan makin banyak bahan baku yang dipakai tentu saja harganya bakal menguras kantong. Agar seluruh segmen pasar tercapai, toko Sumber Jaya memilih untuk menyediakan beragam harga, sesuai dengan kualitas.
Lihat saja, pada harga yang ditawarkan untuk oleh-oleh terasi udang. Mau cari harga sepuluh ribu-an sampai seratus ribu pun tersedia. Star fish kering dijual dari Rp 45.000 – Rp 90.000 per kilogram. Kerupuk udang ukuran 250 gram, antara Rp 4.500 sampai Rp 12.500.
Selain makanan ala bahari, juga ada manisan. Panganan ini tersedia dari yang fresh sampai bentuk kering. Manisan mangga daging dengan kualitas super bisa dibawa pulang dengan harga, Rp 55.000 per kilogram. Selain enak, manisan ini dijamin tak hancur dalam waktu 9 bulan. ”Total kering dan tanpa pengawet,” tukas Sonny tanpa bermaksud promosi.
Anda pun bisa membawa sirup Campolai. Sirup yang menggunakan bahan dasar gula batu ini memberikan cita rasa alami yang berbeda dengan sirup lainnya. Sirup ini cukup mendapat tempat para pemburu oleh-oleh.
Khas yang tak kalah menggoda adalah teh, rengginang, hingga kerupuk melarat. Makanan khas tersebut tidak semata dari Cirebon, tetapi juga perpaduan dari daerah sekitar, seperti dari Plered, Indramayu, dan Kuningan. Bahkan ada beberapa modifikasi menarik yang dibuat dengan menggunakan bahan sama.
Sebenarnya makanan tersebut lebih dikenal di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Namun, berkat penanganan yang piawai, seperti rasa dan penyajiannya, makanan ini pun dapat dirasakan setiap kalangan.

(more…)

Sekitar Kita 4:08 pm

http://www.pikiran-rakyat.com/
Sabtu, 16 Oktober 2004

SAAT dalam perjalanan menuju lokasi tempat pengrajin batik Trusmi di Plered Kab.Cirebon, terlintas dalam pikiran saya, daerah pengrajin batik di daerah Trusmi ini pasti agak kumuh. Namun pikiran seperti itu cepat terhapus manakala saya memasuki wilayah Trusmi mulai dari Jln. Panembahan dan Jln. Buyut Trusmi, sebuah daerah yang menjadi sentra pengrajin batik.

Pada jalur jalan tersebut, kita akan menjumpai beberapa showroom yang ditata dalam bentuk rumah mewah dengan halaman parkir cukup luas. Jika di depannya tidak terpasang papan nama showroom, mungkin tidak ada yang menyangka rumah bagus tersebut adalah sebuah tempat penjualan batik. Pemandangan ini juga yang menyirnakan pikiran saya sebelumnya yang membayangkan Trusmi adalah daerah kumuh.

Trusmi adalah sebuah kawasan pengrajin batik terbesar di daerah “Sunan Gunung Jati”. Karena popularitasnya itu, menjadikan batik Cirebon, lebih dikenal dengan nama batik Trusmi.

(more…)


Solidaritas Kebersamaan