Ada hati yang berputar-putar dari senyum sinis yang tak pernah berhenti menjajah. Satu kedipan, dalam tiap detik waktu. Dalam tiga detik, tercatat dalam statistik kata, tiga sinis hati memerahkan wajah. Satu, dua, dan tiga tamparan hebat berkecamuk tak berubah dalam menit-menit yang menjebakku dalam ketidakberdayaan. Yang tersungkur, tersesat di lumpur-lumpur kabut. Yang pengap dan sepi. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Api dan asap yang mengelilingiku adalah akumulasi dari berbagai bentuk pergulatan hati. Hingga aku tak bisa berhenti bermimpi.
Tiba-tiba tangan-tangan kasar mencoba memapahku, dalam kehampaan, dalam kerinduan yang dalam, dalam kepedihan yang dalam, dalam ketidakberdayaan, seolah menjadi superman yang yang kan membawaku terbang dari kenyataan yang memang tak selalu manis. Menjadi pahlawan yang hadir saat mentari tepat di ubun-ubun hari. Ah! Sepertinya manis, tapi tak lebih seperti halnya serigala yang lain. Yang kelak menawanku di satu prodeo yang tak kalah manis. Ada banyak kamuflase, ada banyak bau kepicikan, begitu menyengat. Dan aku takkan terkecoh di nafas busuknya. Kan ku tebas lidahnya. Suatu saat nanti.
Dam! Sakit hati? Dendam? Tunggu aku nanti ya…
Buat orang-orang yang miskin keberanian. Lawan!











