el gibrany




SEKEDAR CERITA
a women like you

Sekitar KitaDecember 24, 2007 4:42 pm

Gedung Kantor DJB Cabang Cirebon
http://www.bi.go.id/

Kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon dibuka pada 31 Juli 1866 dan baru beroperasi tanggal 6 Agustus 1866 dengan nama Agentschap van De Javasche Bank te Cheribon. Pembukaan kantor cabang ini berdasarkan surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 63 tanggal 31 Juli 1866. Merupakan kantor cabang kelima. Ke-empat kantor cabang yang telah dibuka terlebih dahulu yaitu: Semarang, Surabaya, Padang, dan Makasar P.J. Janssens, Notaris di Cirebon ditunjuk sebagai pimpinan Kantor Cabang Cirebon pertama. Setiap tahun, P.J. Janssens memperoleh imbalan 25 % dari laba bersih minimal f 1.200. Dan sebagai komisaris dan wakil komisaris kantor cabang tersebut diangkat J.W. Peter Pemipin Cabang Factor der Nederlansche Handel Maatschappij (kini menjadi BEII sebelum bergabung dengan Bank Mandiri) dan P. van Waasdjik. Peletakan batu pertama pembangunan gedung Kantor Cabang Cirebon yang terletak di Kampong Tjangkol No.5, dilakukan pada tanggal 21 September 1919 oleh Jan Marianus Gerritzen (anak Direktur M.J. Gerritzen). Perencanaan arsitektur gedung kantor tersebut dilakukan oleh Biro Arsitek F.D. Cuypers & Hulswit. Gedung ini selesai dibangun dan digunakan pada tanggal 22 Maret 1921. Dari catatan sejarah gedung ini dari awal hingga sekarang yang menjadi gedung Bank Indonesia tetap pada lokasi tersebut dan merupakan satu-satunya gedung Kantor Bank Indonesia yang hanya mempunyai satu kubah, sehingga tampak lebih ramping.

Sekitar Kita 4:12 pm

http://www.sinarharapan.co.id/

CIREBON – Berburu oleh-oleh khas Cirebon ternyata bisa jadi petualangan tersendiri. Di kota perbatasan antara provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah itu terdapat sentra-sentra yang menyediakan aneka buah tangan bagi para pendatang. Itu sebabnya dibutuhkan kejelian dan ketekunan untuk memilihnya.

Cirebon amat terkenal dengan beragam olahan khas pesisir, terutama berbahan dasar udang. Ini ditunjukkan dengan betapa mudahnya kita mencari aneka buah tangan, seperti terasi, kerupuk, kecap sampai abon yang terbuat dari udang maupun ikan asin. Terasi udang asal Cirebon harumnya sudah sampai ke mana-mana. Begitu pun dengan abon dari rebon (udang kecil). Alhasil terasa belum pas bila pulang tak membawa panganan itu.
Udang memang jadi andalan. Satwa laut ini telah menjadi kebanggaan kota di pesisir pantai utara Jawa itu. Warganya pun yakin udang juga menyumbang kata untuk nama kota mereka. Saking bangganya, arsitektur bangunan Balai Kota dihiasi dengan patung udang. Patung ini terdapat di bagian puncak bangunan.
”Padahal, oleh-oleh khas Cirebon tak cuma udang saja. Di toko ini, kami membaginya menjadi dua, makanan dan non-makanan,” sebut Sonny, 45, pemilik Toko Sumber Jaya, kios yang khusus menjual oleh-oleh Cirebon di Jl. Siliwangi.
Di bagian makanan, oleh-oleh kembali diklasifikasi: mentah dan matang. Kata Sonny, tak semua toko buah tangan menyediakan kedua jenis panganan itu. Ada yang mengkhususkan diri menjual mentah saja, ada pula cuma sedia matang. ”Bedanya, kami sediakan dua-duanya.” Ambil contoh, emping dan kerupuk.
Untuk olahan bahari, makanan khas Cirebon sebetulnya tak terpaku pada olahan udang. Buktinya, kita bisa dengan mudah memilih ikan asin jambal roti, ikan bilis kering, ikan kakap kering, ikan bulu ayam, star fish dan lainnya. ”Semuanya memang dikeringkan supaya tahan lama dan bisa dibawa kemana-mana,” ujar Sonny dengan ramah.
Bila dibiarkan dalam bentuk basah, hasil laut itu sudah pasti cepat membusuk. Tentu saja, ini tak bisa memenuhi syarat buah tangan yang mudah dibawa dan awet. ”Usaha ini dimulai secara sederhana, kita coba kreatif. Daripada dijual basah tapi nggak tahan lama dan cuma dibuang, kenapa nggak dibuat bentuk kering,” papar perempuan perokok berat itu.
Ia mengaku usaha ini dimulai oleh ibunya, Yoeng Mie Yin (73) pada 1979. Saat itu, tempat mereka berjualan belum sebesar sekarang, cuma sebuah toko berukuran 5×7 meter. Waktu itu toko ini ada di Pasar Pagi Cirebon, tempat ini memang dikenal sebagai pusat oleh-oleh.
Pada 1988, toko Sumber Jaya pindah. Mereka menempati toko baru di Jl. Siliwangi. Ini jalan utama yang selalu ramai. Sebab jalur ini yang menghubungkan Balai Kota dan Alun-alun Kejaksan dengan daerah lain. Perpindahan ini makin pas sebab di sepanjang jalan ini hotel-hotel pun tumbuh subur. Kelancaran usaha mereka terbukti dengan tiga cabang yang dimiliki. ”Tapi yang dua itu beda manajemen. Yang ngurus adik saya,” jelas Sonny tersenyum.

Bervariasi
Soal harga, lanjut Sonny, bervariasi. Tiap produk dibanderol sesuai dengan mutu dan kandungan bahan baku. Makin gurih dan makin banyak bahan baku yang dipakai tentu saja harganya bakal menguras kantong. Agar seluruh segmen pasar tercapai, toko Sumber Jaya memilih untuk menyediakan beragam harga, sesuai dengan kualitas.
Lihat saja, pada harga yang ditawarkan untuk oleh-oleh terasi udang. Mau cari harga sepuluh ribu-an sampai seratus ribu pun tersedia. Star fish kering dijual dari Rp 45.000 – Rp 90.000 per kilogram. Kerupuk udang ukuran 250 gram, antara Rp 4.500 sampai Rp 12.500.
Selain makanan ala bahari, juga ada manisan. Panganan ini tersedia dari yang fresh sampai bentuk kering. Manisan mangga daging dengan kualitas super bisa dibawa pulang dengan harga, Rp 55.000 per kilogram. Selain enak, manisan ini dijamin tak hancur dalam waktu 9 bulan. ”Total kering dan tanpa pengawet,” tukas Sonny tanpa bermaksud promosi.
Anda pun bisa membawa sirup Campolai. Sirup yang menggunakan bahan dasar gula batu ini memberikan cita rasa alami yang berbeda dengan sirup lainnya. Sirup ini cukup mendapat tempat para pemburu oleh-oleh.
Khas yang tak kalah menggoda adalah teh, rengginang, hingga kerupuk melarat. Makanan khas tersebut tidak semata dari Cirebon, tetapi juga perpaduan dari daerah sekitar, seperti dari Plered, Indramayu, dan Kuningan. Bahkan ada beberapa modifikasi menarik yang dibuat dengan menggunakan bahan sama.
Sebenarnya makanan tersebut lebih dikenal di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Namun, berkat penanganan yang piawai, seperti rasa dan penyajiannya, makanan ini pun dapat dirasakan setiap kalangan.

(more…)

Sekitar Kita 4:08 pm

http://www.pikiran-rakyat.com/
Sabtu, 16 Oktober 2004

SAAT dalam perjalanan menuju lokasi tempat pengrajin batik Trusmi di Plered Kab.Cirebon, terlintas dalam pikiran saya, daerah pengrajin batik di daerah Trusmi ini pasti agak kumuh. Namun pikiran seperti itu cepat terhapus manakala saya memasuki wilayah Trusmi mulai dari Jln. Panembahan dan Jln. Buyut Trusmi, sebuah daerah yang menjadi sentra pengrajin batik.

Pada jalur jalan tersebut, kita akan menjumpai beberapa showroom yang ditata dalam bentuk rumah mewah dengan halaman parkir cukup luas. Jika di depannya tidak terpasang papan nama showroom, mungkin tidak ada yang menyangka rumah bagus tersebut adalah sebuah tempat penjualan batik. Pemandangan ini juga yang menyirnakan pikiran saya sebelumnya yang membayangkan Trusmi adalah daerah kumuh.

Trusmi adalah sebuah kawasan pengrajin batik terbesar di daerah “Sunan Gunung Jati”. Karena popularitasnya itu, menjadikan batik Cirebon, lebih dikenal dengan nama batik Trusmi.

(more…)

Sekitar Kita 4:06 pm

http://www.sinarharapan.co.id
2003/1201

CIREBON—Bagi kolektor batik, nama desa Trusmi Wetan dan Trusmi Kulon, Kecamatan Weru, Cirebon tak dapat dipinggirkan. Desa yang terletak sekitar lima kilometer dari pusat kota ini sejak puluhan tahun lalu telah menjadi sentra bisnis batik. Sayang, mereka harus kedodoran mencari para pembatik lokal.
Kisah membatik desa Trusmi berawal dari peranan Ki Gede Trusmi. Salah seorang pengikut setia Sunan Gunung Jati ini mengajarkan seni membatik sembari menyebarkan Islam. Sampai sekarang, makam Ki Gede masih terawat baik, malahan setiap tahun dilakukan upacara cukup khidmat, upacara Ganti Welit (atap rumput) dan Ganti Sirap setiap empat tahun.
Kelihaian membatik itu ternyata memberi berkah di kemudian hari. Batik Trusmi berhasil menjadi ikon batik dalam koleksi kain nasional. Seolah kain batik dari desa ini tak masuk dalam keluarga batik Cirebon. Batik Cirebon sendiri termasuk golongan Batik Pesisir.
Usaha yang bermula dari skala rumahan lama kelamaan menjadi industri kerajinan yang berorientasi bisnis. Produk batik Trusmi bukan sekadar memenuhi kebutuhan lokal, tetapi sebagian perajin mengekspor ke Jepang, Amerika, dan Belanda.
Masa keemasan kerajinan batik di daerah ini terjadi pada kurun waktu 1950-1968. Tak heran bila sebuah koperasi di tingkat lokal, Koperasi Batik Budi Tresna yang menaungi perajin batik, sanggup membangun gedung koperasi yang sangat megah. Tak ketinggalan, sejumlah sekolah mulai dari tingkat SD, SLTP hingga SLTA.
Di masa kini, peran alm. H. Masina tak bisa dilepaskan. Tokoh ini dikenal sebagai pengembang bisnis batik di Trusmi. Itu sebabnya ia pun didaulat untuk memimpin Koperasi Batik Budi Tresna.

(more…)

Sekitar Kita 4:03 pm

Menengok Sintren di Cirebon
Oleh MATDON
http://www.pikiran-rakyat.com/
Minggu, 14 Juli 2002

KEHIDUPAN rakyat pesisiran selalu memiliki tradisi yang kuat dan mengakar. Pada hakikatnya tradisi tersebut bermula dari keyakinan rakyat setempat terhadap nilai-nilai luhur nenek moyang, atau bahkan bisa jadi bermula dari kebiasaan atau permainan rakyat biasa yang kemudian menjadi tradisi yang luhur

Mungkin orang-orang yang dulu hidup di wilayah pesisiran tidak akan mengira kalau tradisi tersebut hingga kini menjadi mahluk langka bernama kebudayaan, yang banyak dicari orang untuk sekedar dijadikan obyek penelitian dan maksud maksud tertentu lainnya yang tentu saja akan beraneka ragam.

Salah satu tradisi lama rakyat pesisiran Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat, tepatnya di Cirebon, adalah Sintren. Kesenian ini kini menjadi sebuah pertunjukan langka bahkan di daerah kelahiran Sintren sendiri. Sintren dalam perkembangannya kini, paling-paling hanya dapat dinikmati setiap tahun sekali pada upacara-upacara kelautan selain nadran, atau pada hajatan-hajatan orang gedean.

Berdasarkan keterangan dari berbagai sumber kalangan seniman tradisi cirebon, Sintren mulai dikenal pada awal tahun 1940-an, nama sintren sendiri tidak jelas berasal dari mana, namun katanya sintren adalah nama penari yang masih gadis yang menjadi staring dalam pertunjukan ini.

Menurut Ny. Juju, seorang pimpinan Grup Sintren Sinar Harapan Cirebon, asal mula lahinrya sintren adalah kebiasaan kaum ibu dan putra-putrinya yang tengah menunggu suami/ayah mereka pulang dari mencari ikan di laut. ”Ketimbang sore-sore tidur, kaum nelayan yang ndak pergi nangkap ikan, ya mendingan bikin permainan yang menarik,” ujar Juju.

Permainan sintren itu terus dilakukan hampir tiap sore dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka, maka lama-kelamaan Sintren berubah menjadi sebuah permainan sakral menunggu para nelayan pulang. Hingga kini malah Sintren menjadi sebuah warisan budaya yang luhur yang perlu dilestarikan.

Pada perkembangan selanjutnya, sintren dimainkan oleh para nelayan keliling kampung untuk manggung dimana saja, dan ternyata dari hasil keliling tersebut mereka mendapatkan uang saweran yang cukup lumayan. Dari semula hanya untuk menambah uang dapur, Sintren menjadi obyek mencari nafkah hidup

Harus gadis.

Kesenian Sintren (akhirnya bukan lagi permainan), terdiri dari para juru kawih/sinden yang diiringi dengan beberapa gamelan seperti buyung, sebuah alat musik pukul yang menyerupai gentong terbuat dari tanah liat, rebana, dan waditra lainya seperti , kendang, gong, dan kecrek.

(more…)


Solidaritas Kebersamaan