el gibrany

Sekitar Kita, PolitikMarch 31, 2008 2:49 pm

WACANA pembentukan Provinsi Pantura atau Provinsi Cirebon, bagi masyarakat Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan) ibarat api dalam sekam. Artinya, setiap saat, kapan saja, bisa muncul, baik dalam intensitas rendah, sedang atau bahkan berkobar-kobar. Dalam sebulan terakhir, misalnya, api itu mulai berkobar. Wacana yang selama ini sebagai fenomena laten, belakangan manifes (mewujud) kembali dalam bentuk tuntutan-tuntutan lengkap dengan beragam pernik sosial dan dinamika. Menguatnya tuntutan pembentukan Provinsi Pantura atau Provinsi Cirebon berbarengan dengan dinamika politik seputar Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar. Kuat terkesan, antara pilgub dengan tuntutan pembentukan provinsi itu terdapat korelasi langsung dalam hubungan kausalitas sebab-akibat. Proses pilgub, diakui atau tidak, menjadi penyebab menguatnya tuntutan itu. Secara kronologis, diawali penjaringan calon gubernur dan calon wakil gubernur (cagub dan cawagub) di tubuh Partai Golkar Jabar. Saat itu, Bupati Indramayu, H. Irianto M.S. Syafiuddin (Yance) yang juga Ketua DPD II Partai Golkar Indramayu, ikut dalam pergulatan internal partainya. Pada perkembangan berikutnya, Yance yang optimistis dirinya bisa diakomodasi oleh partainya, harus berakhir dengan kekecewaan, karena Partai Golkar, yang menggunakan mekanisme ratimda (rapat tim pilkada), menelurkan satu keputusan, yakni hanya memilih cagub. Dan, H. Danny Setiawan lah yang terpilih. Sedangkan untuk cawagub, Golkar menyerahkan sepenuhnya kepada Danny. Keputusan Golkar itu ternyata menutup rapat peluang Yance untuk maju dalam pilgub. Reaksi pun bermunculan dari masyarakat Indramayu. Massa sejumlah ormas pemuda di Indramayu bergerak. Mereka mencabut spanduk dan baliho bergambar Danny-Yance, yang banyak terpasang di sejumlah sudut Indramayu. Kekecewaan atas tidak diposisikan Yance sebagai representasi masyarakat Pantura di ajang Pilgub Jabar 2008, terus berkembang. Awalnya hanya berbentuk protes. Belakangan muncul tuntutan pemekaran provinsi. Tuntutan itu pun terus bergulir, terutama setelah Yance melakukan pertemuan dengan Bupati Cirebon, H. Dedi Supardi. Gayung bersambut. Bupati Dedi menunjukkan solidaritasnya terhadap Yance. Kedua pimpinan daerah lalu mendeklarasikan "Kaukus Pantura" (KP) dan berencana menggelar "Kongres Rakyat Pantura" (KRP). "Soal kekecewaan Pak Yance, itu sebenarnya hanya trigger (pelatuk). Saya melihat ada proses yang tidak adil. Terkesan pantura dinomorduakan. Ini yang membuat saya menyampaikan solidaritas terhadap Pak Yance. Dari situ, lalu muncul ide pembentukan KP dan KRP," kata Dedi. Wacana itu terus menguat, bahkan mengalami perkembangan baru. Jika semula masih seputar isu di tingkat elite yang tercermin dari manuver Yance dan Dedi, kini wacana itu mendapat dukungan Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat, putra mahkota Kraton Kasepuhan Cirebon, yang juga anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Tokoh-tokoh Ciayumajakuning juga menyampaikan dukungan, termasuk berbagai elemen masyarakat dari LSM, mahasiswa, seniman, budayawan sampai para akademisi. Kendati demikian, sempat muncul kontroversi. Tidak sedikit tokoh memilih jalan tengah, namun ada pula yang bersikap skeptis, bahkan menolak dengan alasan belum siap, selain tidak setuju bila wacana itu hanya karena emosionalitas tidak terakomodasinya Yance dalam pilgub.

**

WALI Kota Cirebon Subardi dan Wakilnya H. Agus Alwafier termasuk pimpinan daerah yang setuju dengan wacana Provinsi Pantura. Bahkan, Agus, yang tengah menyusun disertasi S-3, secara khusus menguraikan berbagai potensi wilayah pantura dan Ciayumajakuning dalam kaitan perspektif kemungkinan terbentuknya provinsi baru. "Tidak benar jika pantura atau Ciayumajakuning dianggap tidak layak jadi provinsi. Potensi sumber daya alammaupun manusianya sangat memungkinkan," ujar dia. Dukungan Agus bukan tanpa alasan. Apalagi gagasan Provinsi Cirebon merupakan tuntutan lama, sejak `80-an. Dia pun mendasarkan diri pada hasil penelitian potensi yang dimiliki wilayah Ciayumajakuning. Lewat disertasi doktornya berjudul "Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Daya Saing Investasi dan Implikasinya pada Percepatan Pembangunan Ekonomi Serta Penciptaan Lapangan Pekerjaan dan Peningkatan Pendapatan Pekerja di Wilayah Ciayumajakuning", dia mengungkapkan potensi Pantura dan Ciayumajakuning. "Dari sampel 225 perusahaan kecil hingga besar, lokal, PMDN sampai PMA, menunjukkan perkembangan investasi lebih dari 10% dan penurunan inflasi 7%. PDRB juga meningkat dan lapangan pekerjaan bertambah. Dari aspek itu saja potensinya terlihat. Lagi pula, Cirebon adalah daerah di Jabar yang memiliki sarana yang seharusnya dimiliki ibu kota provinsi, yakni pelabuhan sekaligus bandara. Pendeknya, sudah waktunya Provinsi Cirebon atau Pantura bukan hanya sekadar bahan pembicaraan, namun harus segera direalisasikan," kata Agus. Wali Kota Subardi juga menyatakan persetujuannya sepanjang gagasan itu demi kemaslahatan rakyat, bukan sekadar komoditas politik kepentingan tertentu. "Yang tidak diinginkan adalah ketika pihak yang menggembar-gemborkan Provinsi Cirebon atau Pantura justru diam saat keinginannya terpenuhi. Janganlah tuntutan hanya untuk posisi tawar kepentingan pribadi yang sifatnya sesaat," katanya. Senada dengan Subardi, sesepuh Cirebon, H. Iskandar A.B meminta masyarakat tetap mengedepankan rasionalitas. "Tidak perlu "grasa-grusu" dan mengedepankan emosi. Semua harus benar-benar dipersiapkan matang dari mulai konsep, program, SDM, infrastruktur, biaya, kewilayahan, dan segalanya. Jangan sampai jadi bahan tertawaan. Masyarakat harus solid dan yakin bahwa dengan provinsi sendiri, masyarakat lebih sejahtera," ujarnya.

**

SEBAGAI sebuah wacana, pembentukan Provinsi Pantura, bagaimanapun tidak terlepas dari kontroversi. Banyak yang setuju, tidak sedikit pula yang menyatakan sebaliknya, bahkan menganggapnya sebagai impian. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Imam Syafei, justru memandang gagasan itu hanya sebuah utopia, hayalan belaka. Apalagi kalau alasannya sekadar karena tidak terakomodasi elite lokal dalam pilgub. "Sangat naif," katanya. Pria kelahiran Indramayu keturunan Banten ini berkeyakinan, pendapatnya bukan hanya pendapat kosong, namun didasari pertimbangan dan analisa ilmiah sesuai standar akademis. Menurutnya, perbedaan kultur antara wilayah yang mungkin menjadi cikal bakal Provinsi Pantura atau Provinsi Cirebon menyimpan potensi perpecahan yang sulit disatukan. "Misalnya, Ciayumajakuning, pasti tidak akan semua wilayah menerima gagasan itu. Kuningan dan Majalengka akan menolak. Wilayah kedua kabupaten tersebut jelas kulturnya Sunda," katanya. Pembatas lain yang menurutnya juga jadi kendala yang sulit ditembus yakni tidak adanya dukungan dari legislatif dari wilayah yang bisa menjadi cikal bakal provinsi baru itu. Sejauh pengamatan Imam, keinginan mendirikan provinsi baru hanya keinginan segelintir orang saja tanpa dukungan yang nyata baik dari masyarakat maupun legislatif. Dari aspek pendanaan, tentu juga bakal menyedot dana tidak sedikit, yang seharusnya dana bisa dimanfaatkan untuk keperluan rakyat lebih riil. "Bayangkan saja, provinsi baru berarti kan butuh banyak dana untuk infrastruktur, suprastruktur dan kebutuhan lainnya yang sebenarnya bisa dialokasikan untuk hal lain yang lebih mendesak," ujarnya. Imam juga memprediksi kemungkinan konflik tajam yang bakal muncul dalam menentukan pimpinan daerah dan perangkat lainnya. "Memang semua langkah pasti ada risikonya. Namun, dari semua risiko itu kita kan bisa menghitung, mana yang harus ditempuh dan mana yang harus dihindari, tentu dengan hitungan segi manfaat yang bisa dirasakan," katanya. Kalau menyangkut soal porsi pembangunan yang tidak merata, yang dirasakan wilayah Cirebon seperti dianaktirikan, menurut Imam, sebenarnya hal itu lebih dikarenakan sistem pemerintahan di semua tingkatan, yang memang dibangun di atas fondasi yang rapuh. "Pembentukan provinsi baru bukan merupakan solusi, tapi boleh jadi hanya akan mengulang kesalahan-kesalahan yang ada," ujarnya. Kendati demikian, Imam menghormati semua pendapat yang mendukung gagasan tersebut. "Kalau memang gagasan tersebut dilontarkan sebagai move untuk menyadarkan siapa pun gubernur Jabar yang terpilih, agar lebih memperhatikan wilayah timur, itu sah-sah saja," katanya. (Ani Nunung, Agung Nugroho, Marsis Santoso/"PR")

© 2007 – Pikiran Rakyat Bandung
PIKIRAN RAKYAT

Sekitar Kita, Politik 2:42 pm

CIREBON – Ketua DPD Partai Golkar yang juga Bupati Indramayu H Irianto MS Syafiuddin (Yance) menyatakan kesiapannya untuk memimpin para ulama se-wilayah III Cirebon untuk berunjukrasa ke Gedung Sate Bandung, apabila Danny Setiawan kembali terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat dan mengabaikan aspirasi pembentukan provinsi Cirebon. Orang nomor satu di Indramayu itu akan memfasilitasi para ulama dan mendesak Gubernur Danny untuk merealisasikan pemekaran provinsi Jabar.
“Kalau Pak Danny terpilih kembali jadi Gubernur Jabar, pembentukan provinsi Cirebon akan lebih mudah. Karena Pak Danny sendiri telah berjanji kepada saya apabila kembali terpilih akan mengakomodir aspirasi pembentukan Provinsi Cirebon,” ujar H Yance saat mensosialisasikan pasangan Cagub-Cawagub Danny Setiawan-Iwan Sulandjana (Dai) dan pembentukan Provinsi Cirebon di Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Kamis siang (20/3).
Kegiatan yang diberi nama Silaturahim Ulama Korwil Cirebon bersama Yance untuk mensosialisasikan Dai dan wacana pembentukan Provinsi Cirebon itu diikuti sekitar 150 kyai ulama se-Ciayumajakuning. Turut mendampingi Yance saat memimpin pertemuan itu, Pimpinan Ponpes Kempek yang juga Ketua MUI Kabupaten Cirebon KH Ja’far Shodiq Aqil Siroj, Ketua DPRD Indramayu H Hasyim Djunaedi SAg dan Tokoh Ulama Cirebon KH Hasanudin Kriyani. Hadir juga, para Ketua MUI dan Ketua PC NU di Ciayumajakuning, diantaranya KH Ahmad Djamali, H Juhadi Muhammad, Ketua Panitia
Persiapan Pembentukan Provinsi Cirebon (P4C) tingkat Kabupaten Indramayu, Makali Kumar bersama 5 anggota.
Di hadapan para Ulama, Yance dengan gaya khas-nya yang blak-blakan menuturkan, dukungan dirinya terhadap pasangan Dai, selain dilatarbelakangi rasa tanggungjawab sebagai kader Golkar, juga komitmen Danny terhadap pembentukan provinsi Cirebon.
“Saat saya dipanggil Pak Jusuf Kalla, dia mengatakan pasangan Dai akan kalah kalau tidak didukung masyarakat Ciayumajakuning, terutama Indramayu sebagai basis PG. Saat itu saya menyatakan kesiapan dengan syarat keinginan pembentukan provinsi Cirebon diakomodir. Pak Jusuf Kalla setuju dan tidak mempersoalkannya. Bahkan Pak Kalla juga menyarankan saya untuk menemui Pak Danny untuk menyampaikan syarat tersebut,” kata Yance. yang mengenakan baju muslim dengan kapasitasnya sebagai ketua DPD PG.
Dikatakan, dirinya ngotot memenangkan Dai di wilayahnya dengan target 80 persen salah satunya demi kepentingan masyarakat dan daerah. “Kalau pasangan Dai menang tipis pada Pilgub Jabar nanti dan kemenangan itu ditentukan oleh masyarakat Ciayumajakuning, maka kita punya nilai jual tinggi sehingga mudah menagih janji ke Pak Danny untuk mewujudkan provinsi Cirebon. Bila perlu, saya akan memimpin langsung para ulama se-Ciayumajakuning, termasuk menyiapkan mobilnya untuk mendatangi Gedung Sate untuk menagih janji itu,” tegas Yance.
Sebelumnya, Yance memaparkan bahwa wilayah Ciayumajakuning yang terdiri dari 4 kabupaten dan kota sudah sangat layak untuk membentuk provinsi sendiri. Selain poten SDA, SDM dan Infrastruktur yang memadai, juga ditunjang dengan potensi pendapatan lima kabupaten dan kota (Ciayumajakuning) yang mencapai Rp 3,4 triliun per tahun. Selama ini, pendapatan Ciayumajakuning yang mencapai Rp3,4 Triliun itu disetorkan ke Provinsi Jabar dan hanya sekitar Rp1,1 triliun yang dikembalikan. Dengan membentuk provinsi sendiri, maka Rp3,4 triliun hanya dibagikan kepada 5 kabupaten/kota, sehingga percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Ciayumajakuning akan terwujud.
Yance juga mengatakan di Indramayu keinginan pemekaran provinsi itu bukan lagi wacana tapi kebutuhan mendesak. Bahkan saat ini di Indramayu sudah terbentuk Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Cirebon (P4C) diketuai Makali Kumar yang sekretariatnya di DPRD. P4C yang di dalamnya berhimpun para pimpinan Ormas, OKP, LSM dan Parpol tersebut bertugas mempersiapkan dan memfasilitasi tahapan-tahapan pembentukan provinsi di tingkat Kabupaten sesuai PP 78 tahun 2007, seperti adanya aspirasi masyarakat yang diwakili BPD, keputusan DPRD dan usulan kepala daerah. Yance mengajak ulama di luar Indramayu untuk turut memotivasi terbentuknya P4C dimasing-masing wilayahnya demi percepatan pembentukan provinsi Cirebon.
Pimpinan Ponpes Kempek yang juga Ketua MUI Kabupaten Cirebon KH Ja’far Shodiq Aqil Siroj mendukung langkah Yance untuk memenangkan pasangan Dai dalam Pilgub Jabar 13 April nanti demi kepentingan masyarakat Ciayumajakuning, terutama mewujudkan provinsi Cirebon.
“Kami siap mendukung langkah Pak Yance untuk memenangkan pasangan Dai demi terwujudnya provinsi Cirebon. Momentum Pilgub Jabar ini, harus kita manfaatkan untuk merealisasikan pemekaran wilayah provinsi, karena kita harus menjadi majikan di daerah sendiri,” jelas Kyai Ja’far.
Tokoh Ulama Cirebon KH Hasanudin Kriyani dalam pertemuan itu mengungkapkan harapannya supaya para bupati dan walikota di Ciayumajakuning segera bertemu untuk membahas wacana pembentukan provinsi Cirebon. Jika semua kepala daerah itu bertemu dan sepakat, maka keinginan pembentukan provinsi Cirebon bisa cepat diwujudkan. (mak)

RADARCIREBON.COM 

Sekitar Kita, Politik 2:37 pm

Cirebon, 29 Maret 2008 16:46
Calon Gubernur Jawa Barat (Jabar) Danny Setiawan, berjanji akan mendukung pembentukan Propinsi Cirebon, karena merupakan aspirasi masyarakat Pantura yang harus diberi tempat dan disalurkan agar bisa berhasil diperjuangkan.

"Propinsi Cirebon itu merupakan wacana dan perwujudan aspirasi masyarakat yang harus tetap didukung. Hanya saja untuk mencapai sebuah propinsi, harus melalui prosedur yang telah ditetapkan perundang-undangan," katanya usai berkampanye di hadapan sekitar 15.000 pendukungnya di Stadion Ranggajati, Sumber, Sabtu (29/3).

Ia mengatakan, wacana propinsi Cirebon merupakan bentuk motivasi warga wilayah III Cirebon untuk lebih maju dan mandiri serta mengejar ketertinggalan dengan daerah lain.

Sebelumnya usai makan nasi Jamblang, di Gunungsari, Kota Cirebon, Danny menyangkal dimasa kepemimpinannya sebagai Gubernur Jabar periode 2003-2008 telah menganaktirikan wilayah III Cirebon karena semua daerah mendapat porsi yang sama.

Ia yakin dengan berbagai mega proyek yang sekarang berjalan seperti Waduk Jatigede di Sumedang, Jalan Tol Cikampek-Cirebon, Jalan Tol Cisumdawu, dan Proyek Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, akan membuat wilayah III Cirebon berkembang lebih cepat.

"Saya yakin proyek besar itu akan membuat wilayah III Cirebon menjadi daerah tujuan investasi dan sebagai kawasan industri baru, apalagi sebagian wilayah sekitar Bandung sudah terlalu jenuh untuk kawasan industri," katanya.

Jika semua infrastruktur sudah terselesaikan dan industri berkembang, maka Pelabuhan Cirebon akan bisa bangkit menjadi pelabuhan yang teramai di Jawa Barat.

"Pelabuhan Cirebon tidak bisa berdiri sendiri tetapi juga harus didukung oleh `hinter land` seperti keberadan kawasan industri yang pasti memerlukan sarana pelabuhan untuk memasukkan bahan baku dan ekspor barang jadinya," katanya.

Beroperasinya Waduk Jatigede akan membawa dampak perubahan yang luar biasa pada sektor pertanian di wilayah III Cirebon karena semakin banyak sawah yang bisa dimanfaatkan saat musim kemarau dan semakin sedikit areal yang terkena banjir saat musim hujan.

"Diperkirakan pendapatan petani akan meningkat dan berimbas pada sektor lainnya karena pasti laju ekonomi desa juga akan bergerak naik," katanya.

Danny yakin ke depan laju pertumbuhan ekonomi wilayah Pantura akan bergerak lebih cepat dan akan dirasakan betapa Jawa Barat justru memberikan perhatian khusus kepada wilayah Pantura.

Sebelum berkampanye di Cirebon, Danny Setiawan bersama pasangannya Iwan Ridwan Sulanjana melepas keberangkatan jalan santai yang diikuti belasan ribu peserta di Karangampel, Kabupaten Indramayu. [TMA, Ant]

GATRA.COM