el gibrany

Prosa, Serba-serbiApril 28, 2008 12:46 pm

ada yang terbuang saat aku menghilang. ada yang melayang saat hati bertemu suaramu. riuh, gaduh, berisik, rapuh, jadi teman satu kamar tidurku. ada kecoak yang lapar mencari makanan-makanan sisa. ada gemericik air mata dari balik dinding. ada luka yang makin tersayat. luka. luka. luka.

jangan lagi ada luka yang terus menganga. yang terus tertusuk belati. hingga malam. sampai pagi, kau bangunkan aku dari senyapnya perih yang kurindu.

ini adalah beku. yang menyayat dari balik jubah putihmu. sayap-sayap putihmu berubah menjadi merah jambu. kau sayat satu persatu perih yang tumbuh dari balik jendela. kau patahkan cinta saat pagi menjelang. dalam hening. dalam sunyi. dalam bening yang kurindu.

teriakmu. cacian terhadap benang-benang kusutku. semua yang terbang dan tenggelam tertiup. menjadi sampah yang beku, yang tersudut di bilik hati. ada yang marah. ada yang sedih. ada yang musnah. bahkan irisan cinta memuai di cengkeraman sang perih.

sampai dimana kau mampu bertahan. di remangnya hati. di lelahnya cinta. saat kusutnya langkah. saat ciuman-ciuman birahi pergi saat pagi. lalu harapan kembali mematung menunggu hasrat. luka. luka. luka.

dan kau kembali berbisik, "sampai dimana sepi ini?"

sepi.

bahkan luka yang sejak pagi menyayat, tak mampu mengoyak kerinduan ini. rindu-rindu yang menggelayuti pagi. siang. sore dan malamku. menjadikanku seperti pinisi yang berlayar sendiri. tanpa cita-cita.

hanya memahat jejak-jejak angin berhembus. pada tiap ombak. pada tiap buih. yang saling bertatapan di pantai. lalu sepi. sepi. sepi.

peri yang baik hati pun pergi.

kapan kembali? 

RangkaiApril 24, 2008 3:06 pm

Entah apa yang ada di pikiran wanita renta itu. Wajahnya kusut, pipinya keriput, matanya lebih mirip burung hantu. Berdiri di depan pintu sebentar, kepalanya mengangguk-angguk sambil berjalan, lalu bertanya, "Gunting item dimana? kemaren ada di meja sini tapi trus sekarang ga ada!"

Aku jawab, dengan asal, "Saya taruh disini, kemaren" sambil nunjuk sebuah kotak tempat mata ayam.

"Ga ada. Disitu ga ada!" Sambil matanya mendelik.

"Kemaren saya taruh disini."

"Ga ada. Kemaren kamu saya liat ngambil gunting di meja sini! Disitu ga ada." 

"Mana saya tau."

"Kemaren saya liat kamu yang ngambil gunting disini. Pembantu saya baik, ga mungkin ngambil gunting."

"Buat apa saya ngambil gunting, bu."

"Tempo hari juga gitu. Penggaris hilang. Tapi setelah saya tanya, besoknya penggarisnya muncul."

"Buat apa saya ngambil penggaris, bu?"

"Yang ada disini cuma kamu orang. Kalo bukan kamu orang siapa lagi?"

"Yah, waktu itu juga cutter beli 2, sekarang tinggal 1, ga tau sapa yang usil."

"Ya terserah, pokoknya guntingnya dicari, harus ketemu, nanti anak saya marah lagi sama saya."

"Saya bawa kaleng buat cleaner juga ilang."

"O kalo itu emang kebuang." 

"Pokoknya kamu. Mungkin kamu yang pinjem, saya ga tau."

"Buat apa saya gunting sama penggaris.." 

Rangkai, Serba-serbiApril 12, 2008 3:49 pm

Hahaha…empat Puschasing Order masih numpuk di meja. PO yang pertama dari Mr Wade, Roll Up Banner ukuran 3×4 meter (bused.. mesin sering KO ronde ke-3 kalo ukuran diatas 10 m2). Yang kedua dari Mr Agung, dua lembar duplex untuk papan salon kacangan (masih mencurigakan..mungkin salon plus plus) ukuran 60×90 cm. Yang ketiga, Frontlite one side 160×60 cm, orderan dari Mr Wardana dari salah satu instansi pemerintah daerah yang minta warna aneh-aneh, yang kuitansinya udah di mark up sedemikian rupa. Yang keempat dari Mr Sodikin,  yang masih nunggak beberapa pesenan, stiker logo sebuah lembaga keuangan terbelakang, yang gak jelas eksistensinya dan kapabilitasnya, ukuran kecil cuma 80×80 cm, tapi 4 lembar.

Udah jam 4 sore, semua PO harus udah kelar hari itu juga (gendheng). Loh? Napa?

Sembilan ratus lembar kartu dari Yamaha lagi dikerjain, kudu kelar sore itu juga, 7 lembar duplex (juga dari Yamaha) hampir finish, 6 Lembar Foto + Bingkai 20 R udah siap (udah dikerjain dari pagi). Jam 4 sore itu Order dari Yamaha kudu semua kelar dan siap kirim. Ga mau tau. "Duluin yang punya Yamaha aja, hari ini dikirim!" Astaga… Jojo bersumpah "Seumur hidup gw ga akan beli motor Yamaha!"

Gimana dengan Order yang lain?

Sreet..empat PO di meja langsung disambar. "Koko, ini bawa aja ke Indo****. "&*&%$#" …. …." bla bla bla"

Dalam hati aku berpikir, Hmmm…Aguk dapet "Job Bagus" lagi neh, hehehe..

Tapi… beberapa menit kemudian. "Aan, kamu kerjakan ini semua," sambil nyodorin empat PO "bermasalah" tadi, "Malam ini harus selesai semua," Kata Big Boss. "Malam ini kamu lembur" Tambahnya.

Ahh, pulang gak normal lagi dah. Jojo dengan Wayan masih asik dengan potong memotong dan lipat melipat order Yamaha. Sedang duplex Yamaha yang tujuh lembar masih di lem-lem, tinggal dikit lagi. Wayan nyaranin ngerjain yang 4 PO tadi, tapi aku punya pertimbangan sendiri. Ntar aja, mesin bermasalah kalo ngeprint banyak dan panjang-panjang. jadi, aku kelarin dulu yang ada di depanku.

Udah jam 5, akhirnya kelar juga. Print siap, orang pura-pura siap, sip! Print. Print salon ok, print warung  soto ok. Print yang 3×4 meter. Hohoho…singkat cerita, 3 kali reject gara-gara sensor error. Anjrit! Hah! Untung print yang Oriflame bisa. Tinggal satu yang gambarnya Cagub Bali Mangku Pastika-Puspayoga…huhhuhuh…mesin ga bisa kompromi. Sampe 1/2 8 malem, gw nyerah deh…

Jojo masih bikin desain untuk Yamaha. Malem ini order, malem ini jadi!

Gw pulang. "Lho? Trus Yamaha-nya gimana? Harus selesai malem ini lho" Katanya.

Gak Bisa. Besok aja. Mesin rusak. Mending istirahat di rumah.

Gara-gara Yamaha neh jadi gini. Kali ini ikut Jojo aja "Seumur hidup gw ga akan beli motor Yamaha!!"

***

Terima order asal bisa! 

Udah diapus neeh...