ada yang terbuang saat aku menghilang. ada yang melayang saat hati bertemu suaramu. riuh, gaduh, berisik, rapuh, jadi teman satu kamar tidurku. ada kecoak yang lapar mencari makanan-makanan sisa. ada gemericik air mata dari balik dinding. ada luka yang makin tersayat. luka. luka. luka.

jangan lagi ada luka yang terus menganga. yang terus tertusuk belati. hingga malam. sampai pagi, kau bangunkan aku dari senyapnya perih yang kurindu.

ini adalah beku. yang menyayat dari balik jubah putihmu. sayap-sayap putihmu berubah menjadi merah jambu. kau sayat satu persatu perih yang tumbuh dari balik jendela. kau patahkan cinta saat pagi menjelang. dalam hening. dalam sunyi. dalam bening yang kurindu.

teriakmu. cacian terhadap benang-benang kusutku. semua yang terbang dan tenggelam tertiup. menjadi sampah yang beku, yang tersudut di bilik hati. ada yang marah. ada yang sedih. ada yang musnah. bahkan irisan cinta memuai di cengkeraman sang perih.

sampai dimana kau mampu bertahan. di remangnya hati. di lelahnya cinta. saat kusutnya langkah. saat ciuman-ciuman birahi pergi saat pagi. lalu harapan kembali mematung menunggu hasrat. luka. luka. luka.

dan kau kembali berbisik, "sampai dimana sepi ini?"

sepi.

bahkan luka yang sejak pagi menyayat, tak mampu mengoyak kerinduan ini. rindu-rindu yang menggelayuti pagi. siang. sore dan malamku. menjadikanku seperti pinisi yang berlayar sendiri. tanpa cita-cita.

hanya memahat jejak-jejak angin berhembus. pada tiap ombak. pada tiap buih. yang saling bertatapan di pantai. lalu sepi. sepi. sepi.

peri yang baik hati pun pergi.

kapan kembali?