Masih ada yang tertinggal diantara tumpukan kertas-kertas lusuh di bawah meja. Beberapa disket dan CD tanpa judul nyangkut diantaranya. "SO" dadakan dilakukan dini hari menjelang sahur. Beberapa CD masih bisa terbaca, beberapa disket sudah jamuran dan layak masuk tong sampah. Dari beberapa CD ditemukan tiga header dibawah ini. Tapi seingat saya, dari tiga header dibawah ini, hanya header putih yang pernah dipakai. Dua lainnya cuma penggembira space di CD. ![]()
Header warna unggu, kalau tidak salah dibuat tahun 2005. Themanya masih sama: antara retinal, language, conceptual, dan representational. Tapi masih dalam bentuk kalimat-kalimat panjang.
Header biancoceleste masih kelanjutan dari header tentang gazebo-gazebo yang gagal. Tentang sebuah perjuangan, perjalanan, dan romantika marketing. *Hfiuh..
Ketika penyakit ego lagi-lagi bangkit, ketika penyakit arogan kembali terusik, ada dua tiga manusia yang layak mendapat imbalan yang serupa. Tantangan untuk beradu argumen tentang hebatnya teori marketing di kampus melawan kenyataan lulusan yang kalah bersaing dengan jurusan atau fakultas lain, ternyata percuma. Kekalahan telaknya adalah, cateris paribus. Seorang marketing sukses tidak ditentukan dari IP yang tinggi di kampus. Naifnya itu benar. Masih ada invisible hand. Hoki. Dan sederet faktor yang di relatifkan tetap. Nyatanya pertarungan antara teori dan praktis, nyaris selalu salah ditempatkan di dunia kerja. Apalagi dengan atasan. *Bahlul..
Lalu? Haha.. Jika pertanyaannya "lalu?", jawabannya, "lalu." juga. Apa yang lucu? Setidaknya dua, tiga orang itu sangat meremehkan marketing, sangat merendahkan marketing. Kenapa? Menganggap marketing bisa dipelajari sambil nyetir mobil. Yang ini saya bisa setuju bisa tidak. Yang kedua, bahwa marketing hanya masalah jual menjual. Yang ini saya sangat tidak setuju. Yang ketiga, bahwa marketing adalah berapa penjualan yang dicapai dalam waktu tertentu.
Bila marketing berujung pada penjualan, saya setuju. Tapi bila marketing adalah urusan jual menjual , berapa target per bulan, saya tidak setuju. Apalagi yang mereka katakan masih rancu, antara sales dengan marketing.
(elgibrany. 09/2008)











