Ada kata-kata yang terbang mengingkari artinya sendiri. Ada senyum yang pejal memenuhi selingkuhnya kalimat-kalimat sepi. Ada tawa yang memutar, membalikkan keriangan bocah di pesisir kebahagiaan. Dia hanya diam. Mengetahui badai yang dipuja tak lagi datang memporakporandakan dataran ini. Hanya sepi.

Bisu. Ketika semua berubah menjadi sepi, dan telingga menjadi tuli, menjadi apatis, menjadi segumpal amarah yang membatu, dia masih diam. Berura-pura bisu. Walau masih mendengar sedenting kata yang melengking disamping belati. Yang menyayat hati. Dan batu yang meremukkan mimpi. Dan semua membisu.

Tuli. Apa bedanya tuli dengan bisu?

**

Letakkan jubah hangatmu yang lusuh di terang mimpi, Dekatkan murnimu pada hatiku, Kan kusucikan rahasiamu. Berikan aku segelas kata-kata, tuangkanlah sedikit dari cahayamu. Aku memohon setelah cinta mengacaukan kata-kataku. Maafkan aku..

Cinta…
Mendekatkan sekaligus menjauhkan. Merobek dan merajut di saat yang sama. Cinta juga bukan pilihan. Cinta adalah yang terjadi dan yang dirasakan.Badai dan hujan saat hati dan cinta berdekatan. Kebekuan es dan salju saat menjauh. Dan hati tak bisa menawar… Untuk berada di tengah.

[aanx@denpasar.27maret.2004]

**

Hitam

Seperti terlalu gelap…utopis bergerak di sekeliling… selalu begitu, tak mencerminkan nyata yang memang tak indah. Tidak agresif bahkan laksana batu yang diam, yang dulu pernah diceritakan. Dan massif berselimut kabut tebal

"Seperti itukah klandestin di wajah manismu?"

Dia berkata,"Tidak."

Tapi ia tetap disitu, tak beranjak. Karena tak mampu bergerak, tak bisa memisah. Lalu sadar, walau hitam. Hanya berdua dengan gelap. Ada tanda tanya yang terikat. "Semua karena cinta, dan masih tetap bertahan… karena cinta"

Sang gadis tak pernah tahu cinta tumbuh di sela-sela malam. Cintanya berderai air mata, terhimpit bebatuan dan hidup dalam dingin.

Seorang berkata, "Itu bukan cinta."

"Mengapa?" Dia bertanya.

"Karena belum kau persembahkan."

Keduanya sama-sama diam. Hanya kabut melayang-layang. "Percuma."

Lalu? Tak ada suara. Sepatah kata pun. Mereka diam. Ternyata tidak, salah seorang menyela,"Komprador!!" dengan bersungut-sungut lalu dia pergi. Mengikuti di belakangnya sepasukan mata tombak menghujan tepat di jiwa yang memberontak.

"Pengecut!!"

"Ah siapa lagi ini?"

[aanx@denpasar.12.12.02]