Bagaimana cintaku bisa tumbuh membelakangi aku? (Dibalik keinginan yang sepertinya mengada-ada)

Yang terlihat…seutas tali terlilit di sebatang kayu. Yang lain mengikat hatiku, menaruh rasa cinta. Hatiku berbunga dan masih tertutup jubah rahasia. Engkau adalah hati yang membuat jiwaku membiarkan sekuntum mawar putih tumbuh diantara jeratan tajam berduri. Segalanya berubah, dan aku terlalu percaya diri mendekatimu. Saat ini aku tak ingin bicara tentangnya,-mantan kekasihmu. Sahabat lamaku. Semua membuat aku tersiksa. Terasa ingin muntahkan kegelisahan pikiran tentangmu. Tentang segalanya, yang tengah terjadi pada hatiku. Menari-nari dengan gaun sutra. Bersenandung resah gelisahku. Untuk sesaat mungkin kau ingin juga. Adalah cinta yang terpendam, atau cinta yang baru saja tercipta. Belum pernah terucap untukmu. Terlalu berkabut dan menghalangi setiap kata-kataku. Sulit ku menyibak. Mungkin hanya cinta sepi lelaki yang sendiri. Apakah aku harus mengatakannya? Kegerahan rindu ini, yang semakin meradang. Geram di lamunan. Namun aku menolaknya. Membuat jiwaku terapung di persimpangan. Berada dalam arus tanya tak berujung. Memaksa mebunuh cinta yang tengah tumbuh disaat tak tepat. Saat berakhirnya pertemanan dengannya menjadi kekasihku. Dan harus berujung pada goresan tinta yang harus terlupa. Mungkinkah? Aku ingin jujur kepadamu. Tapi dengan cepat aku menariknya kembali. Begitu seterusnya hingga malam ini. Entah esok, lusa, atau di hari yang lain. Aku duduk dan membiarkanmu pergi, tapi mengapa kau tinggalkan cinta? Kemudian kau berlalu. Berjalan disisi jalan yang ramai tapi aku adalah sepi. Kulepas semua beban diri. Dari pergulatan panjang tak berujung, menikmati malam yang sejukkan hati. Sejenak melupakanmu, dari wajah manismu dan wajah sendumu…yang menjemukan. Namun hanya sekejap. Sekali lagi, cantik wajahmu ada di sekitarku. Bayangan yang tak pantas untukku. Menggelitik angan mungilku. Bermain diantara harapan dan rasa bersalah. Aku tak kuasa melarang. Perasaan ini semakin menghanyutkan aku pada cinta yang resah. Andai ia tahu, atau kalian tahu. Aku tahu engkau tahu! Dan kita tahu. Tapi mereka, apakah diam mereka berarti tahu? lalu apa yang harus aku lakukan? Dan kau hanya berkata : "Nikmati saja cinta ini, rindu ini, sayang ini, dan semua yang ada. Tenangkan cinta dari kegelisahan yang makin nakal" Dan aku harus jujur megatakannya kepadamu?

***

[Aanx. Denpasar, 03/02/03 – 00:50 wita]