Angin kecil menyusup lugu ke dalam remang ruang kosong. Dinding berdebu. Lukisan-lukisan tua. Di Bawah meja. Diantara kain penutup jendela lusuh, dan goresan tangan dewi khayalan.
Jejak-jejak panjang dari jendela tua mediteran. Hilang sekejap, dari debu, dan tertiup angin. Tak bersuara…hanya gelap.
Dan lukisan-lukisan yang tergantung. Tetap tergantung di bawah bayang-bayang kelam.
Ada air mata. Menetes, tapi bukan karena cinta. Pundaknya lelah. Keringat mengalir dari dahinya. Wajahnya sayu. Matanya menatap langit jauh. Berjalan perlahan dan tertatih…Menangis.
Air mata dan keringat jatuh tepat bersamaan. Memberi tanda warna di pijakan tangis.
Cinta…dia tak ingin punya cinta. Dia tak ingin jatuh cinta bila untuk cinta…
Dia tak ingin
*
(Aanx. Denpasar, di suatu pagi, Desember 2002)












huih… sepertinya beban berat sekali…
Comment by adams — November 8, 2008 @ 8:27 am