Aku pernah patah hati. Aku pernah jatuh tersungkur, terluka dan perih. Pedih menyayat sampai hancur. Aku pikir aku takkan pernah jatuh cinta lagi.
Aku pernah begitu mencintai seseorang. Menjaganya dengan sebaik-baiknya. Menyayanginya seolah takkan pernah ada lagi setelahnya. Aku mencintainya dengan sungguh-sungguh. Tak pernah terpikir untuk pergi dengan yang lain. Aku genggam cintaku seerat-eratnya. Sekuat-kuatnya. Sampai akhirnya aku tersingkir.
Aku pernah melawan, mencoba tegar seperti karang. Menahan gempuran ombak dan gelombang pasang. Tapi yang kuperjuangkan harus pergi meninggalkan karang. Lalu untuk apa aku bertahan?
Pernah kucoba memugar cinta yang lain. Mengumpulkan lagi puing-puing yang berserakan di luasnya hati. Dengan kesabaran yang kumiliki. Dengan jatuh cinta lagi, seolah tak pernah tersakiti. Tapi cinta tak tergantikan. Cinta juga tak saling menggantikan. Yang kubentuk bukan seperti yang terkira. Dan aku tersingkir (lagi).
Aku pernah dicintai saat aku terpuruk. Aku pernah dituntun. Wanita yang mencintai, memapahku pada kesadaran kenyataan. Walau tertatih. Dan ungkapkan cinta yang terpendam. Meski dia tahu aku tak mencintainya. Dia membuka hal lain, yang seharusnya kulakukan. Dan aku tersadar…
Ini adalah yang terdalam dari cintaku, yang pernah kusucikan segala rahasiaku padanya.
Tapi cerita tak harus terhenti. Ini adalah bagian dari cerita. Ini adalah bagian dari cinta. Walau akhirnya kau harus pergi (juga).
Dan cinta kan tetap terbang tinggi. Dengan sayap-sayapnya yang masih belum sempurna. Dan yang kuketahui, kau masih mencintaiku. Menyayangiku. Masih ingin memelukku.
Hatimu yang mencumbui gairahku dalam bayangan yang membisu dan kisah yang lekat dengan cintamu kepadaku.
Seperti yang kau minta…
Dalam hati…
[Sebuah ruangan kecil diatas ketinggian 1 meter diatas permukaan tanah. Bukit Permai, Antara Bulan Oktober/November 2006]











