el gibrany




SEKEDAR CERITA
a women like you

Sekitar Kita, Prosa, Serba-serbiOctober 9, 2009 2:22 pm

“Still Got The Blues”nya Gary Moore aku putar berulang-ulang. Paragraf demi paragraf seperti gak pernah abis diamandemen. Berulang-ulang yang muncul, lagi-lagi kalimat-kalimat yang sama. Dan ketika satu bab (sepertinya) bakalan selesai hari ini, lagi-lagi ditolak. Dan aku harus mengulang dari awal. Merubah kalimat-kalimat yang semakin jorok. Gak matching, gak cathcy, gak ilmiah, bla bla bla… dan aku  cuma bisa teriak dalam hati (yah, cukup dalam hati).
Kapan selesainya? Tinggal apa lagi? Kok lama banget? Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul baik itu di sms, di telfon, di koran, di radio, di tivi, bahkan di warung nasi bu Rebo yang banyak tikusnya. Trus? Jawabannya cuma senyum (senyum cemerlang, senyum pepsodent).
Tetep semangat walaupun agak tertatih gak masalah. Banyak ilmu yang banyak ditemui. Setiap bab, ada awal ada akhir. Setiap  akhir satu bab, adalah juga awal satu bab yang lain. Terus begitu. Jadi ga ada salahnya (meminjam istilah dari salah satu dosen ekonomi unud, Wayan Gede Supartha), pura-pura enerjik. Bisa jadi pemicu energi positif (mirip-mirip Tomy Rafael gitu deh), jadi tetep semangat, tetep bisa jalanin bab per bab yang keliatannya makin didikte dan aneh-aneh. Aneh-anehnya, gak sesuai seperti yang aku mau cari jawabannya. Agak menyeberang ke topik yang mirip tapi beda, serupa tapi tak sama. Maklum, isi kepala tiap orang beda-beda. Ada miss yang gak bisa terelakkan, miss yang tak secantik miss universe ataupun miss world. Dan aku terlanjur duel. Rupanya pertarungan yang sengit dan sangat menarik. Seperti Super BigMatch di Liga Indonesia antara Persib Bandung dengan Persija Jakarta, atau PSMS Medan lawan PSM Makassar. Seperti itulah. Dan seperti biasa, menyerah di tengah pertarungan, bukan gue banget. Jadi, harus tetep fight!
Mampir sebentar ke warnet, yang ada tulisan “Dilarang ngamen kecuali lagu mandarin”, di sebelah amoy massage, di depan tukang cukur Maduratna, salah cukur uang kembali. Cari data yang mungkin bisa sedikit membantu. Dua, tiga jam ternyata gak cukup. Banyak kata kunci yang diketik, yang malah bikin kacau isi otak. (Hah..!). Pulang dengan tangan kosong adalah biasa.
*
Hujan yang ditunggu-tunggu akhirnya turun. Tiba-tiba otakku yang tadinya penuh dengan pikiran (ucapan dan tindakan) yang belum beres, sejenak ter-sejukkan oleh udara yang berubah lebih dingin. Yah, sementara ini cukup redam semua emosi di dada (..ku ada kamu). Dingin-dingin gini, denger voice of ujan, makin melow dengan “Geh Deh Ji Geum”nya Lim Jung Hee.

Tetep semangat, tetep senyum.

(161207.15:04)

Sekitar Kita, Prosa, Serba-serbiAugust 21, 2009 8:54 am

Ketika tikaman belati merapuhkan hati, sebait cinta meluruh sekujur tubuh
Ketika hati tengah mendulang air mata, lembut hati tiba memeluk perihnya sayatan

Ketika malam menghantu senyap, tak berujung, adalah jiwa sejuk menuai keriuhan tersisa
Pedih tak berkesudahan, belahlah mimpi ini dengan sedikit senyummu..

Hunuslah pedang ini!

Sudahi rasa takutmu mencintaiku, hentikan belas kasih itu
Rasakan rapuh jiwa ini berharap banyak dari cintamu
dan biarkan jiwa ini tersenyum..

Aku bukan siapa-siapa untuk dicintai
dan kau terlampau sempurna untuk kujaga
sampai saat mimpi seperti melebur bukan hanya di tiap malamku

Sampai tak tersisa detik untuk terus tak memikirkanmu

Sebuah mimpi yang tertuai hasrat..aku memilikimu..

(Denpasar. 181208)

Sekitar Kita, Prosa, Serba-serbiAugust 1, 2009 9:01 am

Ini tentang keteguhan hati

Ini juga tentang kerapuhan hati

Keduanya berdiam di hati

Tentang sunyinya hati

Dan riuhnya hati Hati,

dan hati

 

Ini tentang kebingungan

Antara kepedihan dan jatuh cinta

Antara kesepian dan kebersamaan

Pelukan dan kehilangan

Senyuman dan air mata

 

Cinta..

Ini juga bagian dari hati

Yang tumbuh dan hilang

Di tiap tiupan

Besar dan kecil

Bukan cinta atau rasa yang biasa

Tapi hinggapnya rasa di hati

 

Antara jatuh cinta dan patah hati

Meluruhkan perih

Muntahkan dalam gelap

Perihnya cinta, pedihnya hati

(Kehancuran, kebangkitan, cita-cita, mimpi-mimpi, harapan, dan kenyataan.. – Selasa 29 maret 2005 ½ 2 dinihari | pertama. Selasa 5 april 2005. ½ 5 sore. QN UBGRY YVXVGN. 2nd blood 7 april 2005. home)

Sekitar Kita, Prosa, Serba-serbi, Sosial-Budaya 8:56 am

Awan putih bergerak penuh ragu di balik mendung yang kian menghitam
Saat aku berjalan, yang kusangka hanya gerimis. Takkan membasahi pakaian dan aku terus berjalan, membiarkan rasa terus mengalir.
Rinai hujan, gerimis kecil yang ku tantang, menjawab keluguan hati. Gerimis basahi jalanan, basahi pakaian, basahi pikiran, rasa ini terus mengalir.
Ketika tersadar, kuyup badan ini, rasa ini telah tumbuh. Cinta ini tak bisa kutepis. Dan rindu terus menggigil.

Genangan air di tanah.
Ketika genangan itu di bawah terik
Lalu mengering
Apakah cinta turut mengering?
Apakah cinta itu lenyap?

Apakah air itu berubah?

Genangan itu menguap, apakah cinta menguap?
Atau cinta berganti wujud?
Dari uap, lalu berganti awan di langit
Menggumpal..

Menjadi awan hitam
Lalu gerimis turun, menjadi hujan
Menggenang lagi, menguap lagi, menggumpal lagi,
Mendung lagi, gerimis lagi, hujan lagi..

(elgibrany. Denpasar 2009)

Sekitar Kita, Prosa, Serba-serbiMay 12, 2009 9:44 am

TENTANG cerita-cerita cinta. Tentang pencarian cinta ideal sepasang kekasih. Tentang konflik dalam cerita. Orang tua, keluarga, orang-orang di sekitar, dan peran antagonis.

Dari satu episode ke episode berikutnya. Tentang pilihan-pilihan, tentang penolakan-penolakan, tentang kecewa, tentang sakitnya dikhianati. Tentang takut, tentang rasa memiliki, tentang dilema, orang tua, kekasih, tentang sebuah cinta, tentang sebentuk konsekuensi.

Sebuah pertarungan cinta.

Cinta dan cahaya..
Cahaya yang terasing dari cahaya yang lain. Yang melebur lalu membeku, lalu terbebas dan kembali mengepak, membubung, kuasai hati. Tak pernah ingin beranjak. Juga begitu takut terhempas.

Lalu..
Sebutir kata tertunduk lesu. Bait-bait ketakutan menyudut dan memilah mimpi di keremangan.

Takut.

Melihat lagi jejak-jejak yang tertutup debu. Keriangan yang menjerit. Kegilaan yang menjadi. Lalu air mata, luka, perih, dan lagi-lagi..
Takut..

Kebisuan kata meluruh di balik sepi. Kebingungan tengah merambah sampai pedalaman hati. Pertanyaan-pertanyaan kecil yang terus hadir. Menjadi belantara sunyi. Menepi di sisi hati. Berbaris diantara lirik-liriknya sendiri.

Dan..
Angin kecil yang masih terukir. Tanpa suara, tanpa cahaya. Mimpi-mimpi yang terinjak oleh penuh sesak ketakutan. Dimana lagi kan meminjam jerit tawa? Yang memecah karang kepedihan sampai hancur menjadi debu, menutup air mata.

Ketika..
Awan mendung menteror wajah hati. Sekejap hamparan hijau terkonversi abu-abu. Hati yang diliputi cinta tak kuasa membendung. Kepedihan dari dalamnya rasa.

Inikah sesuatu yang diminta mampu setegar karang? Apa lagi yang harus dijinakkan untuk menghalau badai yang datang?

Aku sangat mencintaimu..


Solidaritas Kebersamaan