el gibrany




SEKEDAR CERITA
a women like you

Sekitar Kita, Prosa, Serba-serbi, Sosial-BudayaAugust 1, 2009 8:56 am

Awan putih bergerak penuh ragu di balik mendung yang kian menghitam
Saat aku berjalan, yang kusangka hanya gerimis. Takkan membasahi pakaian dan aku terus berjalan, membiarkan rasa terus mengalir.
Rinai hujan, gerimis kecil yang ku tantang, menjawab keluguan hati. Gerimis basahi jalanan, basahi pakaian, basahi pikiran, rasa ini terus mengalir.
Ketika tersadar, kuyup badan ini, rasa ini telah tumbuh. Cinta ini tak bisa kutepis. Dan rindu terus menggigil.

Genangan air di tanah.
Ketika genangan itu di bawah terik
Lalu mengering
Apakah cinta turut mengering?
Apakah cinta itu lenyap?

Apakah air itu berubah?

Genangan itu menguap, apakah cinta menguap?
Atau cinta berganti wujud?
Dari uap, lalu berganti awan di langit
Menggumpal..

Menjadi awan hitam
Lalu gerimis turun, menjadi hujan
Menggenang lagi, menguap lagi, menggumpal lagi,
Mendung lagi, gerimis lagi, hujan lagi..

(elgibrany. Denpasar 2009)

Sekitar Kita, Serba-serbi, Sosial-BudayaMay 6, 2009 5:39 am


Harita basa usum halodo panjang
Calik paduduaan
Dina samak salambar
Hmmm.. saksina bulan anu sapotong
Hmmm.. saksina bentang anu baranang

Aya kasono aya katresna
Aya kadeudeuh aya kanyaah
Ngabagi rasa bungah jeung bagja duaan
Aya kasono aya katresna
Aya kadeudeuh aya kanyaah
Ngabagi rasa bungah jeung bagja duaan
Sisi laut Pangandaran?

Tina ati pada pada kedal jangji
Urang silih asuh silih asih silih jadi
Deg ngadegkeun arti asih saenyana
Deg ngadegkeun arti deudeuh saenyana
Ulah dugika rasa katresna
Kerep ngagedur ukur amarah
Nu balukarna nuntun kana jalan salah
Sisi laut Pangandaran?

Reup dicanggreud hate geus pageuh kabeungkeut
Sisi laut Pangandaran
Reup dicangkrem beuki rapet beuki deudeuh
Sisi laut Pangandaran

Sekitar Kita, Serba-serbi, Sosial-BudayaApril 22, 2009 12:11 pm

 

We skipped a light fandango, Turned cartwheels ‘cross the floor.
I was feeling kind of seasick, But the crowd called out for more.
The room was humming harder, As the ceiling flew away.
When we called out for another drink, The waiter brought a tray.

And so it was that later, As the miller told his tale,
That her face at first just ghostly, Turned a whiter shade of pale.

She said there is no reason, And the truth is plain to see
That I wandered through my playing cards, And would not let her be
One of sixteen vestal virgins Who were leaving for the coast.
And although my eyes were open, They might just as well have been closed.

And so it was later, As the miller told his tale,
That her face at first just ghostly, Turned a whiter shade of pale.

 

 

 

- * - 

Sekitar Kita, Serba-serbi, Sosial-BudayaFebruary 27, 2009 1:04 pm

Kurikulum pendidikan Indonesia selalu mengalami revisi dan revisi. Kendati demikian masih banyak terjadi kekacauan. Paling tidak kekacauan ini dapat dilihat dari orientasi pembangunan pemerintah yang masuk dalam kurikulum. Orientasi pembangunanisme, yaitu sebuah ideologi kopian dari kapitalisme yang dihadapi negara untuk kepentingan pertumbuhan dan tidak memperhatikan masyarakat.

Bicara masalah pembangunan di indonesia, pembangunan telah diorientasikan sebagai media produksi untuk menopang industrialisasi pembangunanisme di indonesia. Dalam bahasa Wardiman (link and match). Dari asumsi itu kemudian lahir sebuah pandangan yang sangat materialistik. Keberhasilan pembangunan ditentukan dari seberapa banyak lulusan yang mampu menempati dunia kerja. Hal ini berarti pendidikan telah dicerabuti esensinya. Esensi pendidikan untuk mencerdaskan dan menciptakan manusia yang hakiki telah dieksploitasi dan direduksi habis menjadi sedemikian instant. Proses pendidikan hanya untuk mempelajari hal-hal teknis. Menyiapkan kognisi dan psikomotorik untuk siap di dunia kerja.

Apabila dibedah mengenai bahan ajar yang diajarkan di sekolah dasar tampak terlihat pendidikan selalu dimuarakan pada kepentingan negara. Masyarakat pun tanpa sadar telah menerima kognisi tersebut. Masyarakat mulai memiliki logika sama bahwa keberhasilan pembangunan ujung-ujungnya adalah kapital. Keadaan ini tidaklah masalah manakala diikuti dengan pertimbangan sisi afeksi. Namun kenyataannya sekolah sekarang ini menjadi semacam rezim pengetahuan yang sangat kaku dan mendikte perkembangan kognisi anak didik. Jadi, anak didik dipaksa seragam dalam memahami sesuatu termasuk didalamnya memahami apa itu pembangunanisme dan bagaimana berperan disana. Masyarakat yang diproses dan diproduk dari pendidikan semacam ini tanpa sengaja (karena proses ini sangat hegemoni) memilki pola pikir yang seragam dalam mempersepsi setiap persoalan. Hal ini praktis kesalahan besar karena kesergaman adalah suatu kemandulan.

Apabila mengamati proses belajar mengajar di kampus, praktis kampus tidak mencerminkan perubahan apa-apa bagi kekuasaan wacana pendidikan di Indonesia. Kampus menjadi bangunan kekuasaan yang mendominasi pemikiran. Kampus menerapkan program kuliah yang begitu ketat ditambah lagi orientasinya yang tidak berbeda dengan pendidikan dasar dan menengah. Hal yang lebih parah lagi, mahasiswa belajar bukannya untuk mengukir prestasi keilmuan tetapi dijejali persoalan-persoalan yang jauh dari realita. Bukankah ini sebuah malapetaka besar tatkala mahasiswa mengaku dirinya sebagai pelaku golongan menengah intelektual di Indonesia?

Praktis di ruang kuliah mahasiswa tidak mendapatkan persoalan-persoalan riil untuk dijawab bersama. Keadaan ini bercampur dengan orientasi instant developmentalisme dimana keberhasilan kuliah ditentukan setelah lulus mahasiswa disalurkan kemana. Jadi, orientasi keilmuan dipangkas habis-habisan. Dengan kondisi semacam ini masihkah kampus memiliki orientasi keilmuan? Bukannya kampus telah melakukan rutinitas belajar dengan sistem pembelajaran yang standart dan sudah dipatenkan, tidak ada daya tawar. Mahasiswa dituntut mampu berpikir sangat instant yang kemuadian mahasiswa kurang mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.
Mahasiswa, sebagai kelompok sosial yang teralinasi dalam lingkungannya. Lihat betapa banyak mahasiswa yang tidak berani kembali ke desa dan tidak berani menghadapi persoalan riil di masyarakat. Mungkin bisa juga dilihat dari berapa banyak pengangguran intelektual di indonesia. Kondisi yang parah ini memang kampus diciptakan untuk merepresentasi kepentingan negara dan tidak digunakan untuk merepresentasi perkembangan pengetahuan. Karena digunakan untuk merepresentasi kepentingan negara maka kekuasaan yang diadaptasi di kampus sangat mirip dengan negara. Sangat kaku dan berorientasi pada develop-develop.

Bukankah ini telah mencerabuti esensi-esensi belajar, mencerabuti esensi pengetahuan. Jika memang orientasinya link & match, maka perlu adanya semacam hubungan yang intens antara lembaga pendidikan dan industri. Kemudian muncul problem ada mata kuliah. Teori-teori yang diajarkan umumnya sudah kadaluarsa sehingga untuk bersaing di dunia kerja, mahasiswa perlu belajar lagi.

Sebenarnya esensi pendidikan itu adalah mengembangkan potensi kemanusiaan secara utuh dengan tetap memperhatikan kognisi, afeksi dan psikomotorik. Kognisi tergarap tapi tidak tuntas. Pengembangan kognisi di kampus hanya sebatas kulit dan tidak mencoba menggali persoalan yang lebih mendalam. Psikomotorik, ada pendidikan yang telah memiliki psikomotor murni tapi betapa banyak perguruan tinggi yang pengembangan psikomotornya masih lemah.

Sebenarnya pendidikan itu tidak ada hubungannya dengan ideologi developmentalisme negara. Negara juga harus tahu diri dan tidak bermain di ranah pendidikan hanya untuk kepentingan pembangunan prakondisi yang stabil. Efek pendidikan yang ruwet ini merupakan pengaruh kekuatan negara yang tidak dapat dibendung oelh kekuatan apapaun di masyarakat termasuk di dalamnya pendidikan. Agama pun habis dihadapan negara. Agama dijadikan objek kekuasaan yang hanya mengusung simbol sementara membuang rohnya. Begitu juga dalam pendidikan dimana kepentingan negara terlalu kuat. Kurikulum diciptakan sedemikian rupa untuk menciptakan keseragaman pola pikir. Kondisi ini menguntungkan negara karena semakin rendah resistensi masyarakat pada negara, negara semakin membabi buta dalam mendikte masyarakat untuk menuntaskan proyek-proyek negara termasuk developmentalisme.

(Dibajak dari Catatan Mbah Gatot – Medikom 2001)

Sekitar Kita, Serba-serbi, Sosial-BudayaFebruary 21, 2009 8:58 am

Jumat, 20 Februari 2009 | 14:16 WIB

JOMBANG, JUMAT — Warga Jombang kembali dihebohkan penemuan batu oleh seorang ibu rumah tangga yang sedang mengantarkan anaknya sekolah di kawasan Dayu, Jumat.

Lembaga Kelompok Bermain Al Asna kini dipadati ratusan orang setelah Siti Nur Rohmah (35), ibu rumah tangga yang tinggal di Perumahan Tambakasri I-13, Jombang, itu menemukan batu pualam berbentuk pipih.

Menurut penuturannya, batu itu ditemukan di depan selokan Al Asna saat mengantar anaknya ke sekolah itu sekitar pukul 07.30 WIB.

"Dari selokan itu terdengar suara perempuan yang meminta tolong untuk diselamatkan," katanya saat ditemui di Mapolsekta Jombang.

Ia menceritakan, sejak keluar dari rumah, suara itu terngiang di telinganya. "Yang paling keras suara itu saya dengar di depan sekolah anak saya tadi. Setelah saya dekati, ternyata batu dalam keadaan tebungkus kain ini," katanya sambil menunjukkan batu yang dianggapnya ajaib itu.

 

Batu itu kemudian dimandikan dan digunakan untuk mengobati giginya yang sakit. "Sudah empat hari ini gigi saya sakit. Alhamdulilah sekarang sudah sembuh setelah saya gosok batu ini," kata istri seorang pelayan toko elektronik di Mojokerto itu.

Sejak penemuan itu terdengar luas di masyarakat, rumah Siti Nur Rohmah di Perumahan Tambak Asri, Kelurahan Tunggorono, Jombang, dipadati warga.  

Kepala Kelurahan Tunggorono Kislan mengaku, dialah yang membawa warganya itu ke Mapolsekta Jombang.

"Kami khawatir terjadi apa-apa padanya.

Oleh sebab itu, dia langsung kami bawa ke kantor polisi," katanya saat mendampingi Rohmah di Mapolsekta Jombang.

Hingga kini, ibu rumah tangga itu masih menjalani pemeriksaan secara intensif di ruang Unit Reskrim Polsekta Jombang.

Sebelumnya, masyarakat Jombang juga dihebohkan oleh penemuan batu yang dianggap bisa menyembuhkan segala macam penyakit di rumah Ponari (9) di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh; dan Dewi Setiowati (13) di Dusun Pakel, Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo.

ABI
Sumber : Ant/ Kompas


Solidaritas Kebersamaan